Thursday, October 14, 2010

AKU dan diri-KU

Kembali pada diriku yg asal, atas peribadi yg berbeza, aku merasakan suatu kepuasan dlm pengembaraan, melalui detik2 terindah dlm hidup, mengenang setiap perubahan dan keputusan yg dibuat dgn perasaan jitu tanpa ragu..

Kadang2 seperti suatu pertentangan dlm diri, melakukan sesuatu yg kelihatan bertentangan..

Aku menempuh segala kesulitan, antara diperlakukan seperti pesalah yg patut dihukum tanpa penghakiman atau pengkhianat yg menjadi petualang keturunan..

Ia semacam suatu runtunan perasaan, resah dan kecewa, kehampaan dan kedahagaan, pencarian dan kesesatan, dan tentunya juga perjalanan dlm mencari suatu makna lain dlm kehidupan..

Aku tidak pernah menduga utk menjalani kehidupan seperti ini, suatu yg tidak pernah dijangka dlm fikiran suatu ketika dulu, terasa amat asing seperti suatu yg didatangi secara tiba2, dan memberikan suatu perasaan aneh..

Aku tidak mentafsir semuanya itu kepalsuan kejadian atau sesuatu yg hanya diikatkan dgn kehidupan sebagai jelmaan perasaan, sekadar harapan atau cita2 yg bakal berkubur nanti..

Ini hidup yg sebenar, kehidupan yg realitis, ada kebenaran dan ketentuan sendiri, sebagaimana aku menerima beberapa perkara dlm hidup sebagai suatu takdir dan aku pilih utk melaluinya..

Sama ada aku mahu menerima atau tidak, ia persoalan lain yg mungkin atau mempunyai sebab dan kaitan yg sejajar pada setiap suatu kejadian, atau menjadi suatu yg asing dan terpisah..

Sepanjang masa aku akan membuat beberapa andaian dan jangkaan akan kemungkinan dan pilihan tindakan, antara keperluan atau tidak, membuat keputusan menggunakan akal dan kewarasan..

Aku beranggapan disinilah aku mencari suatu makna baru dlm hidup, memburu hidup yg abadi, biarpun kehidupan disini kadang2 tidak memberikan aku peluang, ruang dan kesempatan..

Aku menjadi matang dari hari semalam, berani dan gagah dlm berdepan dgn kecemasan atau kesukaran, berdepan dgn segala ketidaktentuan dan kerisauan, ugutan kebimbangan yg sering menduga dan tidak membantu diri..

Aku memandang ke langit, tanah, hutan, semak dan sungai, atau denai yg menjadi lorong pencarian rezeki dan sumber kehidupan, segala2nya seolah-olah memberikan isyarat mengenai kehidupan yg puas dan sentiasa mencari kepuasan dan maknanya..

Memang tujuan kehidupan mencari hidup yg bermakna dlm perjalanan dan langkah baru, atau aku terus memburu hidup yg sentiasa diasak dan didesak oleh ketidakadilan dan sikap suka mencemuh..

Itu perkara yg tidak boleh disangkal dan menidakkan adanya perkara seperti ini umpama melakukan pembohongan dan penipuan, atau mungkin mahu berpura2 dgn harapan tidak mengganggu kehidupan yg dilalui. Dan tidak ada sesuatu dlm hidup ini tanpa harga atau nilai tertentu, biarpun kadang2 jelek atau amat hodoh..

Sudah tentunya cara terbaik adalah dgn melaluinya sebagai suatu perjalanan pengalaman..

Tanpa ragu dan tanpa gusar aku melalui hidup ini utk melengkapkan perjalananku, dan barangkali seperti yg dijangka selama ini, kehidupan akan berakhir pada suatu hari yg damai dgn noktah kebanggaan..

Aku percaya dan berpegang kepada suatu hakikat kini, bertapa kekuatan diri amat penting dlm berdepan dgn suatu situasi atau keadaan yg tidak memberikan sokongan atau kekuatan, dan merasakan detik cemas sebagai latihan pertahanan utk menjadi manusia tidak peduli, dan memahami setiap individu tidak semestinya ada sebarang kaitan atau hubungan..

Aku mengerti, hidup aku kini, dimana2 pun tetap atas prinsip atau wajah kendiri yg memisahkan seseorang dgn manusia lain, dan percaya akan perkara seumpama ini tanpa peduli tentang nilai baik atau buruk..

Pada suatu senja, aku merasakan betapa hidup ini amat asing, tentunya. Ada sebab dan alasan tertentu yg aku yakin utk berasa sedemikian dan beranggapan itu juga sebahagian daripada kejadian kehidupan manusia. Dan aku tahu ada sebab dan hujah utk berasa amat asing biarpun sebenarnya tidak sedemikian. Atau keasingan itu menjadi sebahagian pilihan dan bukan ketentuan atas dasar suatu kewujudan pun..

Apakah ini suatu keasingan?? (aku bertanya soalan utk diriku sendiri)..

Sunday, October 10, 2010

Ilmu Allah adalah pedoman untuk Mengenal "Hamba" dan "Tuhan" nya

Bahwa manusia dijadikan oleh Allah adalah untuk berbakti/beribadah dan untuk menyatakan Diri-Nya sendiri pada Zat, Sifat, Asma’ dan Af’al-Nya.

Firman Allah dalam Surah Az Zariyat 56 :
“Sesungguhnya tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah/berbakti”

Untuk mencurahkan bakti/ibadah kepada Allah maka manusia haruslah mengenal Allah.

Sabda Rasulullah SAW :
“Awal dari agama adalah dengan mengenal Allah”

Untuk mengenal Allah, maka Allah memberikan ilmu kepada manusia melalui Akal dan Iman dengan satu harapan agar manusia mengetahui akan hakekat sebenar-benarnya tujuan zahirnya ke dunia ini.


Sesungguhnya semua ilmu yang ada pada manusia adalah Ilmu Allah semata, sedangkan manusia pada hakekatnya adalah kosong semata.

Firman Allah dalam Surah Yunus 57 :
“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman”

Pada dasarnya Ilmu Allah terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Ilmu Kalam
2. Ilmu Ghaib
3. Ilmu Syahadah

Firman Allah SWT dalam Surah Al A’laq 1-5 :
“Bacalah bahwa Tuhanmu itu bersifat Al Akram yang mengajarkanmu dengan Ilmu Qalam dan Tuhanmu mengajarkan manusia pada tidak mengerti menjadi faham atas sesuatu”

Firman Allah SWT dalam Surah Al Hasyr 22 :
“Dan sesungguhnya Allah itu memiliki Ilmu Ghaib dan Ilmu Syahadah”


ILMU KALAM
Ilmu Kalam adalah suatu ilmu pengetahuan dari Allah yang dapat dipelajari oleh manusia untuk tujuan memahami sesuatu di alam maya ini. Dapat dibicarakan, diajarkan, dan dapat diterima oleh pancaindera dan daya fikir manusia yang bersifat zahir semata. Kedalaman dari ilmu ini hanya sebatas dan sejauh pancaindera mencapainya dan tidak lebih. Sebagai contoh, manusia telah mengkaji tentang atom dan DNA (Dioxyribo Nucleid Acid). Namun hingga sekarang tidak pernah mampu mendalami bagaimana atom atau DNA terbentuk.

Dapat disimpulkan bahwa Ilmu Kalam adalah ilmu yang memang diilhamkan oleh Allah kepada daya fikir manusia untuk dapat memahami alam sekitarnya sebagai bekal hidup di dunia. Akan tetapi ilmu inipun hanya diberikan dalam pola bidang-bidang tertentu saja sesuai dengan takaran daya fikir manusia dimaksud.

Transformasi Ilmu Kalam :

1. Allah memberikan rangsangan berupa gejala-gejala alam sekitar untuk kemudian memicu daya fikir manusia (yang diilhami) untuk mengkaji dan mendalaminya.
2. Hasil kajian dan pendalaman ini (pada bidang tertentu) kemudian menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan oleh pancaindera dan daya fikir manusia.
3. Transformasi ilmu ini kepada manusia lainnya adalah melalui guru zahir dengan segala sebutannya.



ILMU GHAIB
Adalah merupakan suatu ilmu yang dapat menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh Ilmu Kalam. Ilmu Ghaib adalah ilmu pengetahuan yang amat luas sekali ruang lingkupnya sehingga tidak mampu dijangkau oleh daya fikir manusia. Ilmu Ghaib hanya bisa diterima oleh Akal dan Iman.

Ringkasnya, Ilmu Ghaib adalah ilmu pengetahuan yang meliputi Alam Saghir (batang tubuh manusia) dan Alam Kabir (jagad raya / alam maya).

Keluasan Ilmu Ghaib meliputi tujuh petala langit dan tujuh petala bumi serta apa saja yang ada di antara keduanya.

Syarat mutlak untuk memperoleh ilmu ini adalah :

1. Suci jiwa dan raga.
2. Mengenal diri.
3. Akal jernih yang dihasilkan oleh hati yang beriman terhadap Allah SWT.


Manusia dikatakan beriman sehingga ber-akal jernih adalah manusia yang telah mampu menghancurkan gumpalan darah kotor di ujung jantung mereka yang menjadi Istana Iblis. Bila gumpalan darah kotor itu hancur maka akan terpancarlah Nur dari dalam jantung yang disebut NurQalbun (Cahaya hati) yang sesungguhnya adalah sebenar-benarnya hati para mukmin.

QALBUN MUKMIN BAITALLAH (Hati orang-orang mukmin adalah Istana Allah)

Dalam pada ini disebutlah QALBUN MUKMIN sebagai AKAL. Yaitu keimanan, keyakinan hakiki terhadap sesuatu secara mutlak tanpa ragu sedikitpun melalui jalan “ghaib” walau logika (daya fikir) manusia tidak bisa menerimanya.

Kadar penerimaan Ilmu Ghaib luasnya tergantung pada kadar kesucian hati dan jiwa manusia serta mengikut kadar yang dikaruniakan sendiri oleh Allah padanya.

Firman Allah dalam Surah Al Taghaabun 11 :
“Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”

Pengetahuan Ilmu Ghaib dapat dilihat oleh mata bathin (bashirah) dan dapat didengar oleh telinga bathin serta kelezatannya dapat dirasakan oleh Qalby hakiki yang dimiliki oleh para Arif billah.

Perlu ditekankan di sini bahwa pengertian “hati” pada uraian di atas sangatlah berbeda dengan pengertian hati seperti lazimnya manusia sekarang mengartikannya. Bahwa pada hakekatnya hati (qalby hakiki) tidaklah pernah kotor oleh karena NurQalbun yang selalu bersinar. Maka sesungguhnya yang menutupinya adalah gumpalan darah kotor yang berada di ujung jantung. Semakin manusia menuruti godaan dan hasutan Iblis dan Syeitan maka semakin besarlah Istana Iblis (berupa gumpalan darah kotor) hingga semakin tebal gumpalan darah kotor tersebut yang akhirnya semakin tertutuplah qalby hakiki hingga NurQalbun seolah tidak terpancar dari dalam jantung.

Jadi sesungguhnya, secara fisik letak qalby hakiki adalah pada jantung. Sedangkan hati menurut persepsi kedokteran sesungguhnya adalah liver.

Bahwa sesungguhnya NurQalbun inilah yang membuat manusia dikatakan “hidup”. Maka pantaslah jika jantung (secara kedokteran) dikatakan sebagai sumber utama penopang biologis manusia, sedangkan darah yang terpompa dari/ke jantung adalah bertindak sebagai “minyak” bagi “cahaya kehidupan” manusia.

Transformasi Ilmu Ghaib :

1. Allah memilih sendiri manusia yang akan dikaruniai ilmu ghaib melalui cara penyampaian secara LADUNI.
2. Manusia yang menempuh jalan hakekat menuju Allah SWT dengan cara mengikuti cara-cara para guru hakekat / makrifat serta mursyid (penuntun) sebagai guru zahir ilmu ini. Bila manusia ini tekun dan istiqamah pada jalannya maka akan memperoleh pula ilmu Ghaib secara Laduni melalui perantara guru-guru ghaib seperti wali-wali Allah, Nabi dan Rasul.

Bila Nabi dan Rasul menerima wahyu dari Allah dengan 9 cara, maka Ilmu Ghaib dihantarkan kepada manusia secara LADUNI dengan 5 cara yaitu :

1. Melalui Nur. Biasanya dapat diterima oleh orang yang sedang menjalani thariqah, melalui jalan mimpi secara kiasan atau sejelas-jelasnya. Murid yang mengalami hal ini wajiblah merujuk kepada “guru yang mursyid” agar tidak terjebak oleh makna-makna manusiawi oleh karena nafsu.
2. Melalui Tajalli. Tajalli dapat diartikan sebagai penjelmaan buah fikiran dari perasaan “Zauq” (hanyut sesaat dalam ke-Maha Besar-an Allah). Maka terbitlah dari mulut atau akalnya suatu pengetahuan baru yang tidak pernah didengar dan diperkatakan olehnya sebelumnya. Dalam keadaan ini wajib pula si murid merujuk kepada “guru yang mursyid” untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam.
3. Melalui Sir. Adalah jalan penyampaian Ilmu Ghaib secara rahasia, yang hanya dapat dirasakan dan didengar oleh seseorang secara mutlak. Lazimnya melalui pendengaran bathin. Suara-suara yang didengar oleh pendengaran bathin adalah suara para Wali Allah Yang Agung tentang Ilmu Ghaib.
4. Melalui Sirrusir. Adalah merupakan suatu jalan penyampaian Ilmu Ghaib dengan “rahasia di dalam rahasia”. Dalam hal ini manusia dimaksud dapat melihat dengan Penglihatan Bathin, dapat mendengar dengan Pendengaran Bathin tentang suatu peristiwa atau pengajaran Ilmu Ghaib, seperti layaknya menyaksikan tayangan televisi.
5. Melalui Tawassul. Adalah dengan cara penjelmaan oleh Guru atau Wali Allah yang ghaib untuk menemui orang dimaksud untuk mengajarkan Ilmu Ghaib. Bertemunya dalam keadaan sadar dan bukan mimpi.



ILMU SYAHADAH
Adalah ilmu yang paling tinggi di dalam pelajaran Ilmu Allah yang dapat dikuasai oleh manusia. Ilmu ini adalah ilmu Makrifah dan Syahadah (Mengenal dan Menyaksikan) dengan sebenar-benarnya (Haq) kepada Allah SWT.
Hanya Allah sendiri yang mengajarkan secara langsung. Dengan lain perkataan, Ilmu Syahadah adalah ilmu untuk menyatakan diri Allah sendiri. Ilmu ini hanya dicapai oleh para Rasul, Nabi dan Wali Allah yang agung.

Monday, September 13, 2010

Masuklah Pada-Ku Seorang Diri


Allah

Allah berseru pada hamba-Nya,

“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!

Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!

Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!

Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku denganma’rifat, maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.

Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu—red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.

Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.

Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia—red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.

Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah—red.) untuk menjadi penuntunmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.

Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena kepemurahan-Ku. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.

Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.”

(Dari kitab ‘Al-Mawaqif wal Mukhtabat’, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)


Monday, August 30, 2010

WAHAI MAHA PEMILIK SEGALA KENIKMATAN

Wahai Maha Pemilik Segala Kenikmatan

Ibuku telah mengandungku
Ayahku telah menjagaku
Ibuku tapi tak pernah berhitung

Ayahku tak pernah merasa tersiksa
Aku memuja mereka berdua


Karena
Redha-Mu engkau selitkan pada mulut ibuku
Kasih-Mu engkau simpan pada wajah ayahku
Andai aku alirkan darah dan keringat ini
Untuk membalas kasih sayang mereka
Sungguh ia tak akan cukup....


Hanya satu yang kupinta untuk mereka dari-Mu
Berikanlah syurga-Mu untuk mereka


Aminn..

SIAPAKAH AKU??

Ya Allah!! Siapakah AKU Ini Sebenarnya??

Wahai Tuhan yang Agung

Yang mengharap kasih mu di alam ini

Aku tidak seperti Adam

Yang mengetahui semua benda

Tidak seperti Idris

Yang akalnya penuh kreativiti
Tidak seperti Nuh

Yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk menyeru hamba-Mu

Tidak seperti Sholeh

Yang dapat mengeluarkan unta dari dalam batu

Tidak seperti Ibrahim

yang rela mengorbankan anaknya demi-Mu

Tidak seperti Luth

yang cukup sabar menghadapi kaum homosex

Tidak seperti Isma’il

yang begitu tenangnya ketika mendengar harus disembelih

Tidak seperti Ya’kub

yang begitu mencintai anaknya yang sholeh

Tidak seperti Yusuf

yang begitu kuatnya menahan gejolak syahwat

Tidak seperti Harun

yang begitu setia mendampingi saudaranya Musa

Tidak seperti Musa

yang begitu marahnya jika ketentuanmu dilanggar

Tidak seperti Daud

yang begitu mudahnya melunakan besi

Tidak seperti Sulaiman

yang walaupun Raja tapi tetap mengabdi pada-Mu

Tidak seperti Ayyub

yang sabar menahan penyakitnya

Tidak seperti Yunus

yang tetap beribadah walau di dalam perut ikan

Tidak seperti Zakaria

yang mampu tak berbicara dengan manusia selama tiga hari

Tidak seperti Isa

begitu berbakti kepada Ibundanya

Dan tidak seperti Muhammad

yang menjadi wakil-Mu dihadapan manusia,

Dan menjadi wakil Manusia dihadapan-Mu kelak

Jadi siapakah aku ini sebenarnya..?